TAMELANG MULAI BERSUARA! Warga Pertanyakan Manfaat Kehadiran Kawasan Industri DIP, Audiensi Ditolak, Gelombang Aksi Lebih Besar Mengintai

Karawang – Ketegangan antara masyarakat Desa Tamelang, Kecamatan Purwasari, dengan pengelola kawasan industri DIP (Dean Industrial Park) PT Dean Shoes mulai memasuki babak baru. Setelah merasa bertahun-tahun hanya menjadi penonton di tengah geliat investasi bernilai miliaran rupiah, warga kini secara terbuka mempertanyakan: apa manfaat nyata yang mereka terima dari keberadaan kawasan industri tersebut?

Melalui Karang Taruna Wiratama Cakra Mandala, masyarakat Desa Tamelang menyuarakan tuntutan agar pengelola kawasan membuka ruang kemitraan yang lebih adil dan memberikan kesempatan yang proporsional bagi warga lokal.

Ketua Karang Taruna Wiratama Cakra Mandala, Samsudin Setiawan, menegaskan bahwa masyarakat tidak pernah menolak investasi. Namun menurutnya, investasi tidak boleh berjalan tanpa menghadirkan dampak positif yang dirasakan masyarakat sekitar.

“Pada prinsipnya kami ingin bersinergi dengan perusahaan. Ada potensi ekonomi yang seharusnya bisa dirasakan bersama. Walaupun secara administratif kawasan industri berada di Desa Mekarjaya, tetapi akses utama dan mobilitas aktivitas kawasan juga melewati wilayah Desa Tamelang. Lalu kenapa masyarakat kami tidak bisa ikut merasakan manfaatnya?” ujar Samsudin, Kamis (25/6/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan keresahan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat. Di saat kawasan industri terus berkembang dan aktivitas ekonomi meningkat, sebagian warga mengaku masih merasa berada di luar lingkaran manfaat investasi.

Lebih jauh, Samsudin mengingatkan bahwa aksi penyampaian aspirasi yang dilakukan warga bukanlah pilihan pertama. Menurutnya, berbagai upaya komunikasi dan mediasi telah dilakukan sebelumnya, namun belum menghasilkan titik temu.

“Kami tidak ingin mengganggu iklim investasi. Tapi masyarakat juga tidak bisa terus-menerus diabaikan. Jika aspirasi ini tetap tidak mendapat respons yang serius, tentu kami akan mempertimbangkan langkah lanjutan,” tegasnya.

Baca Juga  GARDU Tagih Janji Kadisnaker Karawang: "Prioritas Kerja Putra Daerah Jangan Hanya Jadi Tulisan di Atas Kertas"

Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa potensi eskalasi aksi masih terbuka apabila tidak ada langkah konkret dari pihak pengelola kawasan.

Audiensi Tak Diterima, Kekecewaan Warga Menguat

Kekecewaan masyarakat semakin terasa setelah rencana audiensi dengan pihak pengelola kawasan industri tidak terlaksana.

Sekretaris Karang Taruna Wiratama Cakra Mandala, Denis Alfian, mengungkapkan bahwa pihaknya datang dengan itikad baik untuk berdialog, namun tidak mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan pengelola kawasan.

“Hari ini kami tidak diterima audiensi. Tapi perjuangan ini tidak berhenti. Kami akan terus melakukan konsolidasi, termasuk berkoordinasi dengan Karang Taruna Kabupaten Karawang agar persoalan ini mendapat perhatian yang lebih luas,” katanya.

Meski demikian, Denis menegaskan bahwa pihaknya tidak sedang mencari konflik.

“Kami ingin membangun sinergi. Kami ingin bisa bermitra dengan pengelola kawasan maupun tenant yang beroperasi di dalam kawasan industri. Harapan kami sederhana, masyarakat sekitar juga bisa dilibatkan dan mendapatkan manfaat,” ujarnya.

“Jangan Ada Tembok Komunikasi”

Pengurus Karang Taruna Wiratama Cakra Mandala, Bang Jaja, turut menyoroti sulitnya akses komunikasi dengan pihak pengelola kawasan.

Menurutnya, masyarakat kerap menghadapi berbagai hambatan ketika ingin menyampaikan aspirasi secara langsung.

“Kami datang untuk bersilaturahmi dan audiensi. Tujuannya membangun kemitraan. Tapi selalu ada filter dan hambatan yang membuat komunikasi tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut justru berpotensi memperlebar jarak antara perusahaan dan masyarakat sekitar.

Baca Juga  Generasi Muda Mulai Ambil Peran, Chandra Wijaya Kusuma Siap Rebut Kursi BPD Kutakarya dengan Misi Transparansi Anggaran

“Kami memiliki akses jalan yang digunakan menuju kawasan industri. Aktivitas kawasan juga berdampak kepada masyarakat kami. Tetapi warga merasa belum dilibatkan secara maksimal,” tambahnya.

Polisi: Ini Soal Komunikasi dan Komitmen

Menanggapi situasi tersebut, Kapolsek Purwasari, Iptu Cahya Hardiansyah, S.H., menjelaskan bahwa pihak kepolisian telah melakukan pemantauan.

Menurutnya, persoalan yang terjadi lebih berkaitan dengan mekanisme komunikasi dan komitmen jadwal yang sebelumnya telah dibahas.

“Jika ingin bertemu atau menyampaikan sesuatu tentu harus melalui mekanisme dan penjadwalan yang disepakati bersama. Ini soal komunikasi dan saling menghargai komitmen,” jelasnya.

Investasi untuk Siapa?

Munculnya tuntutan warga Desa Tamelang memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah keberadaan investasi skala besar sudah benar-benar memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat sekitar?

Di satu sisi, kawasan industri membutuhkan stabilitas sosial agar investasi dapat berkembang. Namun di sisi lain, masyarakat lokal juga berharap tidak hanya menjadi penonton di tengah pertumbuhan ekonomi yang terjadi di depan mata mereka.

Ketika warga merasa tidak dilibatkan, ketika ruang dialog dianggap tertutup, dan ketika audiensi pun tak kunjung terlaksana, maka potensi gesekan sosial menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Kini bola berada di tangan pengelola kawasan industri DIP PT Dean Shoes. Apakah mereka akan membuka ruang dialog yang lebih luas dan membangun kemitraan dengan masyarakat sekitar? Ataukah membiarkan keresahan ini terus membesar hingga berkembang menjadi gelombang aksi yang lebih luas?

Masyarakat Desa Tamelang masih menunggu jawaban. Dan publik Karawang kini ikut menyaksikan.

Penulis: Indah

Baca Juga

Artikel Lainnya

- Advertisement -spot_img

Berita Teratas

Karawang Update

Trending

Peristiwa